akhir akhir ini sepakbola pada umumnya dan timnas pada khususnya menjadi topik hangat dimana mana. Euphoria yang ditimbulkan juga bukan main luar biasa.
Hal ini tentunya adalah karena pencapaian timnas indonesia yang tanpa pernah kalah dengan rekor yang sempurna melenggang ke final piala Suzuki AFF (well that record has just broken tonight as Malingsia beat Indonesia 3-0 in Bukit Jalil KL).
gak inget lagi kapan kita memenangkan sepakbola di tingkat internasional (asia tenggara lah at least). terakhir kali beberapa taun lalu waktu di piala apa saya lupa, sepertinya piala asia. Indonesia sekali menang lawan Bahrain, kalah lawan Arab (kalau nggak salah) dan saya dan Nisaa tak lama nekat nonton live dengan bela2in beli tiket di calo. jam kerja naek motor ke blok s janjian sama calo di dpn supermarket korea. Waktu itu harga tiket masih terjangkau untuk kategori satu dijual 75 ribu, di mark up (karena beli dicalo) jadi 1ooribu. Dan kita dipermalukan di kandang kita di stadion kebanggaan GBK dengan skor 3-0 oleh Korsel. kejadian itu mungkin kira kira sekitar taun 2006 atau 2007.
Dan sekarang empat tahun kemudian, timnas Indonesia melesat naik. membayar kesetiaan para suporter setia, tanpa cela selalu menang, menjadi juara grup, menyisihkan Philipine di babak semifinal.
Yah gebrakan baru memang diberikan Mr Alfred Riedl, pelatih berwajah strict dan berekspresi datar asal Austria ini, dinilai mampu mendongkrak prestasi timnas. Dan hal ini sebetulnya tak lepas dari keberanian Riedl memasang muka muka baru di timnas. contohnya Octo dan Arif Suyono. Dan Riedl berani membangku cadangkan Bambang Pamungkas (sigh) yg dianggap legend menyamai Kurniawan Dwi Yulianto pada jamannya. Riedl memasang pemain naturalisasi “El Locco” Christian Gonzales dan pemain muda yg besar di Belanda Irfan Bachdim. speaking of naturalisasi, kita patut bangga mampu menekuk Philipina yang hampir semua pemainnya adalah hasil naturalisasi sebut saja the handsome Younghusband brothers (aihh jadi ngeces ngebayangin).
oke enough dengan ke sok tau an saya mengenai timnas, Riedl dkk :p after all saya cuma pengamat amatir yang lebih demen mantengin pemaen lucu macam Younghusband brothers atau menikmati permainan mengacak2 Arif Suyono dan Octo yang larinya sekencang jambret ke gep.
kita sudah dihajar bertubi tubi oleh bencana : dari tsunami di Aceh sampai paling terakhir Merapi dengan wedhus gembelnya. Dan juga isu isu BODOH mengenai kerukunan antarumat beragama.
Sekelompok orang yang berpakaian putih putih dan terkadang berjenggot dan mengklaim tanpa mereka jadi apa Indonesia (jadi damai maleh). Dan dalam setiap aksinya mereka selalu meneriakkan Allahuakbar, seolah2 Allah SWT hanya Tuhan mereka (guys cut the crap, Allah SWT is my God as well). oke, jadi mereka sepertinya bertindak atas kepentingan umat Islam yang minoritas di Indonesia, TAPI saya yang sebagai umat Islam MALU atas aksi mereka. Saya pikir nasionalisme mereka itu tidak ada, mereka tidak berusaha mempertahankan nilai2 adat istiadat Indonesia. tapi memaksakan hukum Islam kedalam masyarakat yang majemuk. Contoh kongkrit : membubarkan pertunjukan wayang karena dianggap mistik atau musyrik atau syirik (WTF!!).
Well karena issue itu, masyarakat jadi sedikit terpecah. Para fanatik dan yang cenderung fanatik mendukung mereka. Golongan lain yang berpikiran lebih terbuka mencibir, mengutuk bahkan sebagian meludahi mereka. Saya pribadi tidak mendukung penerapan hukum Islam di negara kita yang majemuk. Dan sangat tidak setuju dan mendukung aksi kelompok itu.
Balik lagi ke judul diatas, kegemilangan prestasi timnas di piala AFF Suzuki 2010 benar benar menyatukan kita. Tidak lagi ada cibiran orang orang yang apatis (walaupun ada beberapa orang2 type Squidward yg menyindir masalah naturalisasi Gonzales dan masuknya Irfan Bachdim). Semua orang mulai berani menunjukkan kebanggaannya jadi orang Indonesia. Kaos Timnas Indonesia laris manis, dan fenomena yang membuat saya terharu : Nonton Bareng ( Nobar ) untuk menonton Timnas Indonesia diadakan di mall 2 dan kafe 2 atau tempat2 hang out lainnya. yang dulu gak pernah kita temukan.
Nasionalisme yang mulai menebal membuat terharu, mungkin skrg tak perlu baca buku Pramoedya atau memahami sejarah untuk bangga atas Indonesia, yah paling tidak merasa memiliki Indonesia. Dan semua itu simpel dibentuk lewat permainan sepakbola, antusiasme masyarakat walaupun event ini masih dalam tingkat Asia Tenggara layak diperhitungkan.
Just crossing in my mind, if the chairman of PSSI is not that dumb-ass Mr. Recidivist this euphoria might have started earlier. Yeah just my stupid opinion lah … (actually this guy makes stupid statement who exactly the same with the group that i mentioned in prev paragraph .. he once said : kalau bukan saya ketua PSSI Indonesia mau jadi apa? *pengsan di pojokan* so i am a bit curious are they related ? )
Semua orang (hampir semua) antusias menonton El Loco dan kawan kawan membela merah putih. Lagu yang diciptakan Bagus, Enno dan Coki Netral seolah terbayar lunas dengan prestasi mereka. Lagu yamg diciptakan dengan beat siap bertempur skrg makin sering didengar.
Dan salah satu hal yang membuat saya berkesan adalah statement Christian Gonzales ketika ditanya kesannya menjadi pemain naturalisasi dan warga negara Indonesia . Dengan bahasa Indonesia yang terpatah2 dia menjawab “naturalisasi apa? saya orang Indonesia” (yah kurang lebih gitulah saya lupa persisnya :p).
So while the other “squidward” complaining and whining about Indonesia. Our timnas have done their best to Indonesia. those squidward should be ashamed. Jangan pernah malu jadi orang Indonesia, if you want to see the change just simply “be the change you want to see in our country” trust me whining, complaining, mocking, proud of other countries won’t help us to get better. Kalau kalian begitu membanggakan negara lain, kenapa gak apply jadi warga negara di negara yang kalian banggakan itu?
Memang ada satu stasiun televisi yang ganggu banget kelebay an nya menyiarkan berita timnas ini. dan to be honest, seperti cari muka saja mereka ini. Tapi terlepas dari itu semua, Timnas has stole the attention. Apakah ini pengalihan issue ? guess what i dont fucking care. Semakin banyak orang yang cinta Indonesia, saya yakin bisa berdampak positif pada negara cantik yang sedang terluka ini.
so issue mengenai, Gayus, Century Gate, Monarki di Jogjakarta, FPI, Ahmadiyah , dst yang berpotensi besar memecah belah masyarakat kita sekarang seperti tersapu sejenak oleh Sepakbola. Dan hebatnya bukan Piala Dunia, Copa Italia, English Premiere League atau Piala Champion, tapi oleh AFF Suzuki Championship yang bertaraf Asia Tenggara, dan bangganya perhatian itu sepenuhnya tertuju ke Timnas kita dengan skor sempurna tak pernah kalah (sampai malam ini) .
Unity in Diversity, raise and reborn due to football… so simple. then I suggest the chairman of PSSI should stepdown (or fired). otherwise this euphoria that could enhance our nationalism could be discontinue.
it doesnt matter if Malaysia could beat us tonight, we still have 29 in GBK. And if we still cant make it, its okay …this is such a good achievement. Go to final, with perfect scores. if Malaysia win, let it be . they dont have recidivist chairman on their football association. They dont have poor caretaker, and I admit it they sell tickets much better than PSSI.
with the chaotic inside PSSI, we should proud of Firman Utina dkk for bring Indonesia reach such as achievement. and Alfred Riedl for accomodate this dream (almost) come true
.
Last but not least : Terimakasih untuk kembali “mempersatukan” bangsa Indonesia.
I am proud of Timnas … and I am proud to become Indonesian.